Monday, March 7, 2011

Ketika 'Mendengarkan' Menjadi Hal yang Sulit

King's Speech. Filmnya inspiratif banget! Bukan hanya untuk kaum 'stammer' tapi juga orang normal. Sebenarnya inti dari film itu mengajarkan cara mendengarkan orang lain. Kalo saya bilang sih cocok sama keadaan jaman sekarang, dimana semua orang asik dengan pendapatnya masing-masing tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Padahal untuk mendengarkan orang lain butuh teknik khusus loh. Contohnya ketika kita mendengarkan keluh kesah sahabat dengan mendengarkan filosofi hidup yang nantinya berguna buat hidup kita kan pasti tekniknya beda.

Mereka yang kurang mau mendengarkan orang lain kalo saya bilang sih bukan salah di sistem pendengarannya tapi kepekaan hatinya. Padahal jaman SD udah diajarin kalo mau dihargai ya harus menghargai, begitu juga dengan mendengarkan. Kalau mau didengarkan ya harus mendengarkan. Kadang untuk mendengarkan gak perlu buang tenaga buat mikir solusi dari masalah yang didengarkan. Karena kadang ada masalah-masalah yang gak butuh solusi, hanya butuh pendengar buat meringankan sedikit beban.

Terkadang untuk menyusun sebuah kalimat keluar dari mulut butuh usaha ekstra, saya termasuk diantaranya. Jadi ketika kalimat sudah terlontar tapi tidak ada yang mendengarkan, rasanya gak enak banget. Mood pengen cerita yang tadinya 100% bisa turun mendadak jadi 40%.

Bangsa ini gak butuh ahli-ahli hebat, hanya butuh cara mendengarkan satu sama lain yang baik dan benar. Coba deh gimana kita mau tau isi hati orang kalo orang itu baru ngomong seperempat kata kita udah nyamber pake seribu kata. Dan gimana kita bisa tau orang itu kompeten apa enggak kalo sebelum dia ngomong aja kita udah asik sama persepsi kita sendiri. Biarpun Einstein yang bicara, ketika pintu hati dan pikiran udah tertutup juga gak ada gunanya.

Dalam hal mendengarkan kita gak perlu nyiapin panjang lebar kata-kata indah untuk menghibur atau menyelesaikan masalah orang kok. Karena terkadang kita hanya butuh di dengarkan tanpa membutuhkan saran lebih lanjut. Contohnya Supir angkutan umum, tukang kaki lima atau tukang bakso pinggir jalan kadang mereka curhat bukan untuk mengeluh tapi hanya butuh seseorang untuk mendengarkan betapa rumit masalah hidupnya. Mungkin mereka gak punya waktu untuk sekedar bercerita dengan sahabat atau keluarga. Mungkin seluruh waktunya habis untuk memenuhi kebutuhan hidup, mencari penghasilan untuk keluarganya. Dan mereka juga gak lantas butuh saran panjang lebar dari kita kan?! Simak dengan baik dan beri sedikit senyuman. Itu akan mengurangi sedikit beban hidup mereka.

Coba deh kita ngomong sama tembok atau kaca dan rasakan gimana perasaan yang timbul. Ya kurang lebih gitulah rasanya 'tidak didengarkan'. Justru jauh lebih baik ngomong sama benda yang memang jelas tidak bisa memberi tanggapan daripada ngomong sama benda hidup tapi asik sama diri sendiri dan gak mendengarkan kita.

Percaya deh ketika kita lebih mendengarkan orang-orang disekitar kita, akan jauh lebih mudah bersyukur daripada mengeluh keadaan hidup. Karena dari setiap pengalaman orang-orang yang kita dengarkan, akan membuat masalah yang kita hadapi semakin kecil kecil dan kecil. Pada akhirnya tinggal rasa syukur yang tersisa. Rasa syukur karena ternyata masalah kita tidak sebesar masalah yang lain. Misalnya aja ketika kita merasa pendapatan terlalu kecil, kita kan uring-uringan kenapa gak bisa beli ini-itu. Tapi coba dengarkan entah teman atau kolega lain, dimana mungkin mereka akan bercerita bagaimana susahnya mereka membeli satu liter beras, atau untuk berobat ke dokter saja tak sanggup. Masih berani compare masalah kita yang cuma gak bisa beli bb baru sama masalah orang yang gak bisa makan?

Yuk stop ngomong ribuan kata dan mulailah dengarkan hal-hal kecil disekitar kita :)

0 komentar: