Sunday, August 15, 2010

Ketika kamu adalah air dan aku adalah api

Kata orang dengan cinta semua bisa dilalui dengan mudah, tapi mereka salah. Mereka yang bicara begitu mungkin tak tau yg kita alami.

Aku terlahir untuk pergi ke gereja sementara kamu membaca Quran. Siapa yg disalahkan? Tuhan?
Tidak, Tuhan tidak salah, tidak pernah salah.

Lalu aku berpikir kenapa kita dipertemukan? Kenapa Tuhan iseng menaruh cinta diantara kita sementara diluar sana banyak perang butuh cinta. Sekali lagi siapa yg salah? Peperangan?
Bukan, bukan perang yang salah.

Ketika semua orang diluar bersikeras menentang kita, sementara hanya kamu yg terima aku, semua imajinasiku bahkan sampai kelakuanku. Adilkah? Sekali lagi siapa yg salah? Mereka yang mencibir atau kita?
Bukan, bukan mereka,aku atau kamu yang salah.

Lalu siapa?
Ketika dunia semakin bergejolak dengan segala masalah politik ekonominya, hatiku ikut bergejolak. Berpikir tentang kita nantinya.

Sejenak aku berpikir seharusnya kita jadi role model kerukunan umat beragama.

Mencari siapa yang salah? Hmf...aku tertawa. Tertawa keras menyadari tidak ada bedanya aku dengan kemunafikan diluar sana. Mencoba mencari siapa yang salah untuk kemudian melakukan pembelaan diri.

Cukup cinta, cukuplah semua usaha. Biar bagaimana pun air dan api tidak akan bersatu.
Kami berhenti sampai disini. Berhenti mencari siapa yang salah, berhenti mencari pembenaran dan kembali memasrahkan semuanya pada Tuhan.

Kalau benang merah di kelingkingku memang terikat pada kelingkingmu. Suatu saat entah bagaimana caranya, kita akan bersatu dengan jalan yang lebih mudah.

Apabila tidak, maka aku harus bersyukur pada Tuhan telah menempatkanmu satu frame denganku dalam episode kecil fim hidupku. Terima kasih untuk mempercayai mimpi-mimpiku dan terima kasih untuk tidak menertawakan kekonyolanku.

Seseorang yang lebih baik atau mungkin yang terbaik telah menunggu kita diluar sana. Berhenti menangis dan menyesali. Ketika mulai terasa sakit dan kesepian, sadarlah belum tentu semua lancar dan bahagia ketika kita bersama.

Wednesday, July 7, 2010

Perbedaan bukan benda yang menakutkan

Pernah membayangkan dunia tanpa warna hijau, merah, kuning atau warna-warna lainnya? Yang ada hanya putih saja atau hitam saja. Atau pernahkah membayangkan dunia ini terbentuk hanya dengan satu suku, satu ras dan satu agama? Atau bagaimana kalau sendal jepit hanya ada sebelah kanan semua? kita tidak sadar kalau terkadang si warna hijau dan merah membuat hidup lebih indah, atau perbedaan ras membuat kita lebih enak dipandang.

Sama seperti hidup ini, kadang kita menganggap remeh kemampuan orang lain dan memandang sinis perbedaan. status sosial, agama, kekayaan dan jabatan terkadang membuat orang lupa hal dasar dari hidup beragama yaitu berbuat baik. saya mungkin hanyalah seorang bocah yang belum pantas berbicara soal agama, namun semua perselisihan atas dasar agama membuat berpikir bukankah agama hanyalah sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan? bagaimanapun cara kita berdoa atau apapun yang diajarkan oleh kitab suci masing-masing tujuan utamanya adalah satu yaitu Tuhan. dan terkadang karena mengutamakan hal-hal yang bersifat ritual, kita sering mengesampingkan intinya yaitu berbuat baik. bukan berarti saya menyetujui untuk melupakan kitab suci atau berdoa lho.

Begitu juga dengan status sosial, kekayaan dan jabatan. OB, si mbak pembantu rumah tangga, penyandang cacat, supir pribadi sampai pengemis, semuanya adalah manusia dan semuanya butuh diperlakukan baik. kadang kita lupa menganggap mereka ada. bahkan untuk mengucapkan salam pada mereka, kita terlalu gengsi untuk melakukannya. malahan kita lebih sering mencibirkan kekurangan orang-orang tersebut. padahal kita tidak tahu mungkin saja tepat disaat kita sibuk membicarakan kekurangan orang lain, orang tersebut sedang merencanakan sebuah kebaikan untuk kita. atau ketika kita berbuat jahat pada orang lain, padahal Tuhan sedang menitipkan berkah untuk kita pada orang itu.

Saya sih kurang percaya kalau semboyan bangsa Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, coba saja dilihat di televisi yang ada adalah orang-orang yang sibuk merusak ini-itu atas nama agama. atau coba saja dilihat perbedaan suku dan ras kadang masih menjadi ganjalan besar. mungkin kita harus berlapang hati mengakui kala kita belum siap menerima perbedaan. ketika menemukan sesuatu yang tidak sejalan, maka dengan seenaknya dimusuhi atau ditinggalkan. padahal waktu masih sejalan, kemana-mana bersama.

Perbedaan itu bukan suatu benda yang menakutkan sehingga harus dibandingkan satu sama lain, namun untuk diterima, untuk membuat hidup lebih berwarna. sebagai kaum muda, saya sering kali merasakan ketika saya berusaha membuat perubahan untuk menerima perbedaan, kadang dipandang sinis, dipandang terlalu frontal. kadang memang sakit menerima perbedaan dan hal yang paling berat adalah menurunkan sedikit gengsi untuk menerima perbedaan itu sendiri. itu bagian yang paling sulit. tapi percaya deh, segera setelah si gengsi udah turun sedikit ada sedikit rasa lega dan bahagia melihat betapa berwarnanya hidup kita.

Ayolah, kita bisa ko bukan hanya menambahkan warna hijau, kuning, ungu atau merah ke dalam hidup kita. selama semua yang kita lakukan mengandung satu kata yaitu kebaikan. berubah yuk!. cheers.

Thursday, July 1, 2010

Ketika Sendok Punya Cerita

Sendok dan garpu adalah sepasang peralatan yang memang diciptakan untuk berpasangan. Lalu bagaimana kalau sendok adalah peralatan yang senang mencari tantangan?

 

sendok yang memang sudah ditakdirkan untuk mendapat jodoh berbentuk garpu, mencoba melawan takdirnya untuk berteman dengan pisau. Pisau terlihat tampan dengan ketajamannya, terlihat dapat melindungi sendok dari kejamnya dunia kuliner. Namun sendok tidak sadar, suatu saat ketajaman pisau akan melukainya. Berulang kali piring, teko dan cangkir memperingatkan sendok untuk tidak mendekati pisau. Namun sendok yakin dengan dirinya bahwa berteman dengan pisau tidak akan menyakiti dirinya.

 

Mungkin sendok dan pisau memang hanya berteman, namun pandangan peralatan lain terhadap mereka berdua. Seperti halnya di dunia manusia, pandangan masyarakat tercipta bukan tanpa sebab. Kedekatan sendok dan pisau dinilai semua peralatan terlalu berlebihan, terlalu dekat sehingga sangat berbahaya satu sama lain.

 

Sendok memang cukup terpandang di kalangan peralatan makan. Bentuknya elok dan berliuk, setiap lekukannya sangat indah dan mulus. Karena karunia Tuhan tersebut, terkadang Sendok menjadi sombong dan tidak memperdulikan lagi nilai-nilai moral yang ada. tidak memperdulikan nasihat orang yang berniat baik padanya, bahkan cenderung bersikap merendahkan peralatan yang lainnya.

 

Kini sendok hidup dengan kesombongannya. Ia tetap bertahan bersama dengan pisau. Ia tidak memperdulikan nasehat dan omongan peralatan yang lain. Dan saya sebagai penulis hanya berharap semoga si sendok kelak sadar akan perbuatannya. Dan semoga saat dia sadar, semua belum terlambat. Semua belum terlanjur memusuhi dan berpandangan negatif terhadapnya.

 

Mari semua berdoa untuk kesadaran sendok...amen.

 

"Moral of the story : terkadang tidak semua yang kita yakini benar, terlihat benar juga dimata orang lain. Nasehat dan masukan dari orang lain janganlah dulu dipandang sebelah mata. Karena setiap manusia tidak mungkin hidup dalam satu komunitas saja."

 

cheers,

Msnara-instupidlove ^o^

Wednesday, June 30, 2010

A.Y.A.H

Pemandangan di kereta sore ini benar-benar membuat saya gatal untuk menulis. Ada seorang ayah dan anaknya naik kereta dan duduk tepat di depan saya. Ketika sang ayah duduk sementara anakny tidak dengan tanpa tedeng aling-aling sang anak berkata "Awas pap, aku aja yang duduk". Miris banget liatnya >.<

Kasih ibu memang sepanjang masa. Tapi pernah berpiki gak kasih ayah sejauh mana?
Ketika semua orang sibuk mengelu-elukan sosok ibu, mungkin di belakang ayah sedang meratap miris.
Saya menulis ini bukan karena dendam tertentu pada sosok ibu. Bukan juga merasa sakit hati sama ibu. Cuma saya selalu berpikir bagaimana dengan ayah?
Tidak ada hari ayah dan tidak ada juga award2 khusus untuk ayah. Padahal selama ini ayah juga ikut berjuang membesarkan kita.

Ketika kita sedih, ayah juga sedih namun karna terbatasnya jenis ekspresi pada pria hingga beliau menunjukkannya dengan cara marah. Boleh ditanyakan pada para ayah, ketika mendapati anaknya pulang larut malam atau terlebih pulang pagi, dibalik ekspresi marahnya ada rasa lega luar biasa anaknya sampai rumah dg selamat.

Ibu memang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan kita. Dan saya sangat menghargai dan berterima kasih karenanya. Tapi pernahkah berpikir kalau ayah juga mempertaruhkan nyawanya ketika mencari nafkah untuk menghidupi kita? Mungkin di jalan, ketika begitu banyak bahaya mengancam,beliau tetap pergi bekerja mencari nafkah.

Sekali lagi tulisan ini hanyalah sebuah karya say untuk ayah, ungkapan rasa terima kasih saya pada ayah. Bukan mengajarkan orang untuk tidak menghargai ibu. Mereka orang-orang hebat yang bahkan dengan hadiah nyawa pun belum pantas untuk mengganti jasa-jasanya.

Saya gerah ketika menemukan seorang anak bersikap kasar pada ayahnya. Bersikap seolah-olah ayahnya tidak perlu ikut campur dalam masalah hidupnya. Taukah dia hati ayahnya terluka oleh semua sikapnya?

Yang ingin saya bagi adalah ada baiknya kita menghargai dan berbakti pada kedua orangtua kita. Baik ayah maupun ibu, keduanya sudah bekerja sama membesarkan kita.


Sayangi mereka ya ^.~

Thursday, May 6, 2010

Love in differences

Hey, hey ya there!

I do not know
why the difference was always be the biggest obstacle in a relationship
I did not know either
why did different skin colors, different languages, different ways to pray or different ways of thinking that has always been a barrier

did you ever think that different skin color are not able to add color in life
different languages enables us to master many languages
the level of faith a person is not judged by a different way of praying
or the other way of thinking can increase the variation in life

I live in a country that respects difference but people almost use diversity as a problem *sigh

come on, can not we get rid of all that and start thinking positive

R.A.N.D.O.M - ness



Random pict of me and my little sister