Wednesday, July 7, 2010

Perbedaan bukan benda yang menakutkan

Pernah membayangkan dunia tanpa warna hijau, merah, kuning atau warna-warna lainnya? Yang ada hanya putih saja atau hitam saja. Atau pernahkah membayangkan dunia ini terbentuk hanya dengan satu suku, satu ras dan satu agama? Atau bagaimana kalau sendal jepit hanya ada sebelah kanan semua? kita tidak sadar kalau terkadang si warna hijau dan merah membuat hidup lebih indah, atau perbedaan ras membuat kita lebih enak dipandang.

Sama seperti hidup ini, kadang kita menganggap remeh kemampuan orang lain dan memandang sinis perbedaan. status sosial, agama, kekayaan dan jabatan terkadang membuat orang lupa hal dasar dari hidup beragama yaitu berbuat baik. saya mungkin hanyalah seorang bocah yang belum pantas berbicara soal agama, namun semua perselisihan atas dasar agama membuat berpikir bukankah agama hanyalah sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan? bagaimanapun cara kita berdoa atau apapun yang diajarkan oleh kitab suci masing-masing tujuan utamanya adalah satu yaitu Tuhan. dan terkadang karena mengutamakan hal-hal yang bersifat ritual, kita sering mengesampingkan intinya yaitu berbuat baik. bukan berarti saya menyetujui untuk melupakan kitab suci atau berdoa lho.

Begitu juga dengan status sosial, kekayaan dan jabatan. OB, si mbak pembantu rumah tangga, penyandang cacat, supir pribadi sampai pengemis, semuanya adalah manusia dan semuanya butuh diperlakukan baik. kadang kita lupa menganggap mereka ada. bahkan untuk mengucapkan salam pada mereka, kita terlalu gengsi untuk melakukannya. malahan kita lebih sering mencibirkan kekurangan orang-orang tersebut. padahal kita tidak tahu mungkin saja tepat disaat kita sibuk membicarakan kekurangan orang lain, orang tersebut sedang merencanakan sebuah kebaikan untuk kita. atau ketika kita berbuat jahat pada orang lain, padahal Tuhan sedang menitipkan berkah untuk kita pada orang itu.

Saya sih kurang percaya kalau semboyan bangsa Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, coba saja dilihat di televisi yang ada adalah orang-orang yang sibuk merusak ini-itu atas nama agama. atau coba saja dilihat perbedaan suku dan ras kadang masih menjadi ganjalan besar. mungkin kita harus berlapang hati mengakui kala kita belum siap menerima perbedaan. ketika menemukan sesuatu yang tidak sejalan, maka dengan seenaknya dimusuhi atau ditinggalkan. padahal waktu masih sejalan, kemana-mana bersama.

Perbedaan itu bukan suatu benda yang menakutkan sehingga harus dibandingkan satu sama lain, namun untuk diterima, untuk membuat hidup lebih berwarna. sebagai kaum muda, saya sering kali merasakan ketika saya berusaha membuat perubahan untuk menerima perbedaan, kadang dipandang sinis, dipandang terlalu frontal. kadang memang sakit menerima perbedaan dan hal yang paling berat adalah menurunkan sedikit gengsi untuk menerima perbedaan itu sendiri. itu bagian yang paling sulit. tapi percaya deh, segera setelah si gengsi udah turun sedikit ada sedikit rasa lega dan bahagia melihat betapa berwarnanya hidup kita.

Ayolah, kita bisa ko bukan hanya menambahkan warna hijau, kuning, ungu atau merah ke dalam hidup kita. selama semua yang kita lakukan mengandung satu kata yaitu kebaikan. berubah yuk!. cheers.

Thursday, July 1, 2010

Ketika Sendok Punya Cerita

Sendok dan garpu adalah sepasang peralatan yang memang diciptakan untuk berpasangan. Lalu bagaimana kalau sendok adalah peralatan yang senang mencari tantangan?

 

sendok yang memang sudah ditakdirkan untuk mendapat jodoh berbentuk garpu, mencoba melawan takdirnya untuk berteman dengan pisau. Pisau terlihat tampan dengan ketajamannya, terlihat dapat melindungi sendok dari kejamnya dunia kuliner. Namun sendok tidak sadar, suatu saat ketajaman pisau akan melukainya. Berulang kali piring, teko dan cangkir memperingatkan sendok untuk tidak mendekati pisau. Namun sendok yakin dengan dirinya bahwa berteman dengan pisau tidak akan menyakiti dirinya.

 

Mungkin sendok dan pisau memang hanya berteman, namun pandangan peralatan lain terhadap mereka berdua. Seperti halnya di dunia manusia, pandangan masyarakat tercipta bukan tanpa sebab. Kedekatan sendok dan pisau dinilai semua peralatan terlalu berlebihan, terlalu dekat sehingga sangat berbahaya satu sama lain.

 

Sendok memang cukup terpandang di kalangan peralatan makan. Bentuknya elok dan berliuk, setiap lekukannya sangat indah dan mulus. Karena karunia Tuhan tersebut, terkadang Sendok menjadi sombong dan tidak memperdulikan lagi nilai-nilai moral yang ada. tidak memperdulikan nasihat orang yang berniat baik padanya, bahkan cenderung bersikap merendahkan peralatan yang lainnya.

 

Kini sendok hidup dengan kesombongannya. Ia tetap bertahan bersama dengan pisau. Ia tidak memperdulikan nasehat dan omongan peralatan yang lain. Dan saya sebagai penulis hanya berharap semoga si sendok kelak sadar akan perbuatannya. Dan semoga saat dia sadar, semua belum terlambat. Semua belum terlanjur memusuhi dan berpandangan negatif terhadapnya.

 

Mari semua berdoa untuk kesadaran sendok...amen.

 

"Moral of the story : terkadang tidak semua yang kita yakini benar, terlihat benar juga dimata orang lain. Nasehat dan masukan dari orang lain janganlah dulu dipandang sebelah mata. Karena setiap manusia tidak mungkin hidup dalam satu komunitas saja."

 

cheers,

Msnara-instupidlove ^o^