Kata orang dengan cinta semua bisa dilalui dengan mudah, tapi mereka salah. Mereka yang bicara begitu mungkin tak tau yg kita alami.
Aku terlahir untuk pergi ke gereja sementara kamu membaca Quran. Siapa yg disalahkan? Tuhan?
Tidak, Tuhan tidak salah, tidak pernah salah.
Lalu aku berpikir kenapa kita dipertemukan? Kenapa Tuhan iseng menaruh cinta diantara kita sementara diluar sana banyak perang butuh cinta. Sekali lagi siapa yg salah? Peperangan?
Bukan, bukan perang yang salah.
Ketika semua orang diluar bersikeras menentang kita, sementara hanya kamu yg terima aku, semua imajinasiku bahkan sampai kelakuanku. Adilkah? Sekali lagi siapa yg salah? Mereka yang mencibir atau kita?
Bukan, bukan mereka,aku atau kamu yang salah.
Lalu siapa?
Ketika dunia semakin bergejolak dengan segala masalah politik ekonominya, hatiku ikut bergejolak. Berpikir tentang kita nantinya.
Sejenak aku berpikir seharusnya kita jadi role model kerukunan umat beragama.
Mencari siapa yang salah? Hmf...aku tertawa. Tertawa keras menyadari tidak ada bedanya aku dengan kemunafikan diluar sana. Mencoba mencari siapa yang salah untuk kemudian melakukan pembelaan diri.
Cukup cinta, cukuplah semua usaha. Biar bagaimana pun air dan api tidak akan bersatu.
Kami berhenti sampai disini. Berhenti mencari siapa yang salah, berhenti mencari pembenaran dan kembali memasrahkan semuanya pada Tuhan.
Kalau benang merah di kelingkingku memang terikat pada kelingkingmu. Suatu saat entah bagaimana caranya, kita akan bersatu dengan jalan yang lebih mudah.
Apabila tidak, maka aku harus bersyukur pada Tuhan telah menempatkanmu satu frame denganku dalam episode kecil fim hidupku. Terima kasih untuk mempercayai mimpi-mimpiku dan terima kasih untuk tidak menertawakan kekonyolanku.
Seseorang yang lebih baik atau mungkin yang terbaik telah menunggu kita diluar sana. Berhenti menangis dan menyesali. Ketika mulai terasa sakit dan kesepian, sadarlah belum tentu semua lancar dan bahagia ketika kita bersama.
